1. Obuk dan Kapurut
Ada dua jenis makanan yang diolah dari tepung sagu, yaitu Obuk dan Kapurut.
Obuk adalah sagu yang dimasak di dalam bambu. Terbuat dari gumpalan tepung sagu yang basah diparut dari parutan yang dibuat dari bilah-bilah bambu sehingga tepungnya menjadi halus. Kemudian, olahan tepung tersebut dimasukkan dalam ruas bambu yang kecil dan tipis dengan diameter sekitar tiga sentimeter.
Selanjutnya, bambu berisi sagu dibakar di atas perapian sekitar 10 menit, setelah matang, bambu dibelah dan sagu di dalamnya siap dihidangkan bersama lauk. Biasanya, dihidangkan dengan makanan berkuah seperti sup ayam atau sup ikan karang panas-panas.
Oleh karena setelah dingin sagu akan mengeras, saat panas, maka sagu akan terasa lembut.
Kala dinikmati dengan sup ayam atau sup ikan, Obuk terasa begitu lezat.
Kapurut adalah olahan tepung sagu yang dimasak dalam daun sagu.
Tepung sagu yang basah dicampur parutan kelapa dan dibalut dengan daun sagu yang runcing serta memanajang. Lalu, dibakar di dekat perapian. Rasanya agak keras dibandingkan Obuk. Biasa dimakan untuk sarapan pagi bersama teh manis atau kopi.
Makanan dari sagu ini hanya ada di Pulau Siberut dan Pulau Sipora. Tidak akan kita temui di Pulau Pagai Utara dan Pagai Selatan.
2. Subbet
Keladi yang disebut Gete’ di Mentawai adalah salah satu makanan yang dihidangkan sehari-hari. Ada beberapa jenis makanan yang diolah dengan keladi atau campuran keladi dan pisang yang disebut Subbet.
Subbet keladi terbuat dari keladi yang direbus atau dipanggang dalam bambu. Lalu, dihancurkan. Kemudian, dicampur dengan kelapa parut dan dibulatkan. Selanjutnya, digulingkan lagi dalam kelapa parut.
Subbet pisang dibuat dari campuran keladi dan pisang yang telah direbus, dihancurkan, dan dicampur dengan kelapa parut yang dibulatkan. Rasanya lebih manis karena ada campuran dari pisang.
Ada juga keladi dan pisang yang sudah direbus, dicampur kelapa lalu dimasukkan ke dalam bambu dan dibakar. Namanya Subbet Obuk. Rasanya lebih lembut dan beraroma kayu bakar. Dihidangkan panas untuk kudapan.
3. Batra Ulat Sagu
Pohon sagu juga dimanfaatkan untuk mendapatkan sumber protein, yaitu ulat sagu. Ulat sagu ini sebesar jari, warnanya putih dan gemuk. Namanya Batra.
Ulat sagu bisa dimakan langsung atau digoreng tanpa minyak dan dibakar dalam bambu atau dikeringkan. Rasanya mirip jagung rebus karena makanan batra ini hanya pati sagu.
Batra dihasilkan dari batang sagu yang paling muda di bagian ujung. Batang pohon sagu dibelah, satu sisi batangnya dibiarkan terbuka dengan memberi ganjalan sebilah kayu agar tawon besar (Rynchoporus ferrungineus) bertelur di celah batang mengandung sagu yang perlahan-lahan meragi.
Selama 7-12 minggu di dalam batang, sagu itu sudah berkembang menjadi ulat-ulat sagu berwarna putih sebesar jari sepanjang 3-4cm. Batra ini hanya ada di Siberut, tidak ada di tiga pulau lainnya.
4. Toek Ulat Kayu
Toek adalah ulat kayu yang mirip cacing, panjang dan badannya transparan dan putih. Ulat ini berasal dari kayu tumung. Hanya jenis kayu ini yang bisa menghasilkan toek. Pohon tumung ditebang, dipotong-potong 50cm, diikat, dan direndam dalam sungai selama tiga bulan. Setelah tiga bulan, toek akan dipanen idi dalam sungai. Kayunya dibelah dan didalamnya sudah penuh toek yang bersarang.
Toek bisa dimakan mentah dengan perasan jeruk nipis dan garam atau bisa juga ditumis. Selain itu, juga lebih banyak dibuat di sungai-sungai yang dekat dengan laut. Tidak akan dijumpai di pedalaman. Jika ingin merasakannya, kita bisa mendapatkannya di Saurenuk di Tuapeijat, Ibu Kota Kepulauan Mentawai.
Harga jual per batang pohon yang disimpan dalam sungai sudah berisi toek. Satu sarang toek itu harganya Rp50 ribu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar